#RamadhanBerkisah


AKSARA

Masih di kediaman Tiaa Anggraeni Irawan, si gadis cantik yang rela berteman dengan Clara Dwi Pratiwi sang pendosa tanpa rasa jijik apalagi mengharapkan balas imbalan. Taman yang berada di samping rumah Tiaa memang enak untuk dijadikan spot ajang curhat ngaler-ngidul seperti yang dilakukan tiga anak manusia ini.

Setelah melakukan sholat teraweh di mesjid yang berada di perumahan Tiaa, mereka langsung mengambil alih Taman sebagai tempat mereka beristirahat.

"Lalu kak, setelah meninggalnya Kak Ridho, kakak kemana? Kenapa baru sekarang kakak menemui Clara?" Bukan Clara yang bertanya, melainkan sang sahabat yang katanya sejati. Clara memejamkan matanya, sakit itu ternyata belum sepenuhnya hilang bila membahas perihal Ridho dan kematiannya. Ulu hati Clara sakit. Tapi benar apa yang Tiaa katakan, dirinya juga penasaran kemana hilangnya Robbi setelah insiden itu. Maka dari itu, Clara menuntut Robbi bersuara dengan memelototi pemuda itu.

Robbi bergidik, merasa terancam kehidupannya oleh gadis kecil itu.
"Maaf sebelumnya bila kehadiran saya mengacaukan suasana yang tercipta...,"

"Bukan mengacaukan kak, tidak sama sekali. Kita cuman ingin tau saja. Dua tahun lalu Clara rapuh kak, Clara butuh tameng untuk dirinya sendiri, namun kedaan justru sebaliknya. Clara yang rapuh semakin rapuh, dia stress kak. Bahkan Clara beberapa kali melakukan percobaan bunuh diri" Clara melotot, apa-apaan dia ini. Menyebarkan aib Clara yang lainnya kepada Robbi?! Huh!!

"Tiaa!!!" Teriak Clara setelah rasa terkejutnya hilang, bersamaan dengan itu, Robbi berteriak. Kencang.

"APA??!"

"Kakak nggak tau kan? Bego banget emang dia, udah di kasih tau kalau kecelakaan itu bukan salah dia, tetap aja bego mau nyusul kak Ridho. Untung kak Ari mergokin dia. Jadi nggak jadi deh matinya"

"Apa sih Tiaa, siapa juga yang mau bunuh diri"

"Jangan menyangkal deh Clara sayang. Coba liat tuh kak Robbi diam begitu. Dia cemas pasti sama kamu. Udah, jangan lagi melakukan hal bodoh. Sudah kak Robbi jekaskan juga kan? Doain aja kakak kamu, semoga dia bahagia di sana. Iya, kan kak?" Tiaa meminta persetujuan Robbi, namun fokus Robbi hanya tertuju pada Clara yang saat ini sedang menundukan kepala, bahunya bergetar. Apa semua hati perempuan sensitif? Apa yang terjadi mereka mengeluarkan air mata sebagai tempatnya menenangkan diri.

"Yahh, malah memangis. Maaf Clara, bukan begitu maksud aku. Udah dong jangan nangis" Tiaa mendekap sang Sahabat, sambil berulang kali mengucapkan kata maaf.

Sumpah!

Maksud Tiaa bukan begitu.

"Tiaa, bisa tinggalkan kami berdua? Saya butuh berbicara dengan Clara" Pinta Robbi yang langsung di patuhi Tiaa dengan meninggalkan keduanya dalam remangnya cahaya bulan dan kesenyian.

Setelah dirasakan keadaan Clara membaik, Robbi memutuskan memecahkan kesunyian diantara mereka.

"Coba kamu pandang langit" Clara menengadahkan kepalanya ke atas. Di sana terhampar taburan bintang, berkerlap-kerlip layaknya kembang api. Tanpa sadar senyum Clara terukir yang membuat Robbi melebarkan senyumnya.

"Indah yaa"

"Iya, langitnya indah. Aku suka" Clara menjawab antusias, "Di sana kak Ridho berada, mengawasi adeknya yang nakal dan ceroboh ini. Kak Ridho itu bintang yang paling bersinar, dia disana" telunjuk Clara menunjukkan salah satu bintang yang paling bersinar diantara bintang lainnya.

"Iya, maka dari itu kamu harus kuat. Kamu buat kakak kamu tenang, jangan lagi menyalahkan diri kamu, sudah saya katakan bukan, bahwa Tuhan lebih menyayangi kakak kamu dari pada rasa sayang kamu pada kakak kamu?"

"Tersenyumlah Clara, berbahagialah. Karena senyum kamu jauh lebih indah dari pemandangan apapun" Clara tersenyak kaget, kemudian tertawa lepas.

"Apa deh kak, gombal banget"

"Saya serius Clara. Kamu indah, jauh lebih indah dan cantik bila kamu tertawa seperti barusan. Saya suka" Tawa Clara tambah kencang, dan Robbi semakin tenggelam akan pesona sang gadis. Berbahagia lah kamu Cla. Kamu pantas untuk bahagia.

"Saya suka sama kamu Clara" Tanpa sadar Robbi mengucapkan kata itu, kata yang seharusnya tidak dia katakan pada Clara, mungkin bukan sekarang, tapi nanti. Membuat Clara menghentikan tawa dan terdiam kaku. Tidak percaya Robbi akan mengatakan hal, tersebut.

"Apa kak?"

"Apa?"

"Iya?"

"Maksud kamu dengan apa?"

"Apa yang barusan kakak katakan?"
"Saya? Saya mengatakan apa pada kamu?" Tanya Robbi bingung.

"Ah, sudah lah" mungkin Clara salah mendengar. Robbi tidak akan mengucapkan hal seperti barusan, bukan?

Robbi hanya mengangguk, kemudian mereka melanjutkan obrolan hingga malam semakin larut.


#Day13
#RamadhanBerkisah
#PenaJuara

Komentar

Postingan populer dari blog ini

#RamadhanBerkisah