#RamadhanBerkisah
AKSARA
Hari berlalu, keadaan Clara jauh lebih baik dari sebelumnya. Setelah perjuangan panjang, Robbi berhasil membuat Clara sadar Kalau apa yang dilakukan anak itu memang di luar batas. Hubungan keduanya juga lebih dekat, mereka sering menghabiskan waktu dengan keluar, jalan-jalan. Tiaa pun ikut bersama mereka, atas paksaan Clara. Padahal Tiaa tidak ingin mengganggu acara Clara dan Robbi.
Seperti pagi di hari minggu ini, ketiganya melakukan jogging di taman dekat rumah Tiaa, subuh tadi setelah sahur di bulan puasa dan mereka melakukan olahraga, tidak salah bukan? Maka dari itu Robbi menelepon Clara dan mengajaknya lari pagi, tanpa menunggu waktu Clara meng-iya-kan ajakan Robbi dan secara sepihak mengatakan Joggingnya bareng Tiaa dan di taman dekat rumah Tiaa. Robbi hanya bisa mengelus dada, sabar.
Cobaan memang datang secara tiba-tiba, seperti halnya kebahagiaan.
Entah terlalu polos atau memang bego Clara ini. Sudah jelas Robbi ingin melakukan pendekatan padanya, masih saja dia mengajak sang sahabat dalam acara yang Robbi buat, khusus dirinya dan Clara.
Jam 6 mereka telah kumpul di taman dan langsung jogging, secara pelan-pelan. Kalau hari biasanya setelah jogging mereka bisa minum atau makan karena capek. Hari ini tidak, iya. Karena bulan puasa, dan sebisa mungkin mereka tidak kelelahan, waktu maghrib masih lama. 2 putaran cukup bagi Clara dan Tiaa, maka dari itu keduanya menunggu Robbi selesai lima putaran dengan duduk santai di bawah rindangnya pohon. Menikmati semilir angin yang menerpa wajah dan melihat banyaknya kaum muda yang berolah raga di bulan puasa, tak menyurutkan semangat mereka.
Sebuah bola sepak kecil tiba-tiba mengenai kaki Clara. Mengambil bola itu dengan mata menelusuri sudut taman mencari tahu siapa pemilik bola merah itu. Seorang anak kecil menghampiri Clara dengan kedua tangan menengadah, meminta bola yang Clara pegang. Clara berjongkok, Mensejajarkan tubuh dengan anak itu, kemudian bertanya "Ini bola punya kamu?"
Si anak mengangguk "iya, kak" memperlihatkan giginya yang belum tumbuh sempurna.
Refleks, Clara mencubit pipi bakpau sang anak kecil "Lucu banget sih kamu, namanya siapa, eum?"
"Lio kak" balasnya cadel.
"Rio atau Lio?" Robbi bertanya, berjongkok di samping Clara. Setelah selesai dengan aktivitasnya Robbi berniat menghampiri Clara yang saat Robbi berlari sedang duduk bersama Tiaa di bawah pohon.namun, hanya ada Tiaa sedang sibuk dengan telepon pink miliknya.
"Udah selesai kak?" Tentu, bukan tertuju pada Rio melainkan Robbi. Robbi hanya mengangguk, mengambil bola dari tangan lembut Clara dan menyerahkan kepada Rio yang senantiasa menunggu Clara memberikan bola miliknya.
"Makacih kak"
"Sama-sama sayang, kamu kesini sama siapa? Kok sendiri?"
"Cama mamah, Tuh" Rio menunjuk tempat sang ibu tadi duduk. Dari pandangannya hanya terlihat punggung seorang wanita dengan telepon genggam berada di telinga. Rupanya sedang bercengkrama dengan seseorang via telepon.
"Ya, udah. Hati-hati ya kamu" Rio melenggang meninggalkan Clara dan Robbi yang masih berjongkok, memperhatikan sang anak menghampiri mamanya, mereka pergi, ketinggalan taman.
Seperti ada yang kosong saat Rio meninggalkan Clara.
"Claa, Kak Robbi pulang yuk. Bunda udah telepon suruh pulang" Tiaa cemberut.
"Yuk"
"Ayo, Clara" Tiaa mengandeng tangan Clara, berjalan di depan menjadikan Robbi seolah bodyguard untuk para perempuan itu.
Clara rasa, ada yang tidak beres dengan hatinya saat kedatangan Rio, seperti ada ikatan kuat anatara dirinya dan anak itu.
Siapakah Rio? Mengapa rasanya Clara telah mengenal lama anak itu.
Lamunannya buyar saat Robbi berseru di belakang mereka "Guys, aku duluan ya, kalian tidak apa-apa aku tinggal pulang? Ibu meminta untuk di temani belanja"
"Oh, tidak apa-apa kak. Lagian rumah Tiaa dekat dari sini"
"Kalian hati-hati"
"Kakak pun, Kabari bila telah sampai. Terima kasih telah membawa saya pergi hari ini"
"Harusnya saya yang mengatakan demikian, saya duluan.
Assalamualaikum"
"Waalaikum'salam"
"Tambah dekat ya kamu sama kak Robbi" Tiaa menggoda Clara kala Robbi telah meninggalkan mereka berdua.
Clara bergegas berlari kecil menghindari Tiaa dan bibir cerewet gadis itu.
"WOY! CLARA! JANGAN LARI KAMU!"
Tiaa berlari mengejar Clara, dalam hati bersyukur Clara telah kembali ceria, setidaknya di depan umum, dia memasang senyum.
#Day16
#RamadhanBerkisah
#PenaJuara

Komentar
Posting Komentar