#RamadhanBerkisah


AKSARA

Clara tau, tujuan hidupnya kini hanya sebatas menghilangkan rasa bersalah yang telah terpatri indah di ingatan. Bukan hanya dirinya, namun juga Orang-orang sekitar dia. Ya, semoga semesta mendukung tujuan Clara. 

Tujuan baik, menghilangkan rasa bersalah yang tumbuh namun kata mereka itu semua adalah takdir Yang Maha Kuasa bukan kesalahan Clara. Semoga.

Robbi selalu menjadi perantara antara Clara dan Dimensi yang membelenggu. Laki-laki itu seolah tahu apa yang Clara butuhkan, bukan hanya ajang pengalihan pikiran, namun kebutuhan pokok yang tidak Clara dapatkan dari Orang tuanya. Pulang sekolah ini, Robbi mengajak Clara berkunjung ke rumah laki-laki itu, yang bahkan selama ini coba ditutupi. Alasannya simple, Ibu -Tante Mira, seingat Clara. Ingin berjumpa dengan dirinya. Ada apa gerangan?

Selama dua bulan kedatangan Robbi yang mendadak, Clara belum pernah berjumpa dengan Tante dan Om yang baik hati itu, bahkan mereka menganggap Clara adalah anak mereka sendiri. Mengapa Clara tahu? Karena Ibu Robbi sering berkunjung ke rumah Clara dulu, sebelum Ridho meninggal, lagi pula anak lelaki dua keluarga itu bersahabat. Mustahil Ibu Robbi tidak mengenali Clara kecil.

Setibanya di kediaman Robbi, Clara tidak tahu harus melakukan apa. Hanya duduk cantik sementara si pelaku yang membawanya kemari hilang terpisah dimensi, Sampai Ibu Robbi datang memecah keheningan yang tercipta dengan mendekap erat tubuh ringkih milik gadis itu, seolah takut kehilangan.

"Kamu kemana aja sayang? Tante rindu" Bahu wanita itu naik-turun, dapat di pastikan bahwa beliau mengeluarkan air mata. Duh, Gusti. Clara tidak tahu harus berbuat apa. maka Clara hanya mengeratkan dekapan yang tercipta. Memotret setiap inchi gerakan dan aroma yang terguar dari tubuh wanita yang telah melahirkan seorang Aksa Robbi Purnama, seakan sosok itu adalah Ibunya sendiri. Yang entah berada di mana.

"Kamu sehat kan? Maaf,maafkan Tante Cla, Tante tidak tahu keadaan kamu seperti ini. Sungguh. Dimana mereka? Apa mereka tidak sadar telah melukai putri kecilnya? Sungguh. Mereka orang tua yang kejam, sangat amat kejam!" Tangis Tante Mira pecah, membuat siapapun tahu betapa sakit yang beliau rasakan. Tanpa terasa air mata Clara jatuh, dengan terbata gadis itu menjawab "Cla baik Tante, Cla baik-baik saja Tan"

Dekapan itu merenggang, Tante Mira melepaskan pelukan mereka, dan Clara merasakan kehilangan itu lagi. Kedua jemari Tante Mira mengusap lembut air mata Clara, beliau tersenyum. Yang Clara tahu bahwa itu jenis senyum paksaan. Sekedar obat penenang hati yang patah.

"Jangan nangis sayang, jangan nangis. Tante mohon" Tante Mira kembali mendekap seorang Clara, mengelus rambut gadis itu dan mencium puncak kepala Clara penuh kasih. Apa yang Clara rindukan selama ini, terbayar sudah hari itu oleh seorang Ibu yang telah membesarkan Robbi penuh sayang.

Apa Clara boleh merasakan iri pada Robbi?

Robbi dan hidup sempurnanya berbanding terbalik dengan kehidupan Clara.

Sekali lagi semesta mempermainkan hidup Clara dan Clara harus menjalani kehidupan yang telah tergores pada takdirnya. 


#Day18
#RamadhanBerkisah
#PenaJuara

Komentar

Postingan populer dari blog ini

#RamadhanBerkisah

#RamadhanBerkisah