#RamadhanBerkisah


AKSARA 

Sore itu, saat Clara hendak meninggalkan kediaman Robbi, cuaca yang awalnya panas terik berubah menjadi rintik hujan, tidak deras memang. Namun cukup membuat baju basah, langit tidak ikut berubah gelap, Sang surya masih menampakkan diri menemani rintik hujan terjun bebas dari tempatnya. kalau dalam bahasa sunda, hujan seperti ini di namakan dengan Hujan poyan. Biasanya saat hujan seperti ini, Clara dan Ridho selalu bermain hujan di luar, kemudian melihat pelangi muncul setelah hujan reda. Flashback lagi kan?!

uhhhh...

"Kenapa di luar Cla? Dingin loh padahal" Robbi datang dengan dua gelas cokelat panas, yang asapnya masih menggepul. Diberikan salah satunya pada Clara yang dengan senang hati langsung di terima.

"Terima kasih" Balas Clara, tersenyum.

"Kembali kasih Clara" Dilanjutkan dengan bertanya "sedang apa gerangan Nona manis di mari?" Menimbulkan rona merah di pipi mulus milik Clara.

"Aish, kakak. Jangan gitu" Tertawa canggung dilakukan Clara untuk menutupi salah tingkahnya.

"Gitu gimana?" Robbi kembali melancarkan serangan maut. Senang saja rasanya melihat gadis itu tersipu malu di buatnya.

"Kenapa mukanya di tekuk, Clara?" Clara mendongak, di dapatinya Robbi yang tengah menyeringai geli. "Di minum cokelatnya"

"Ah, iya kak" Dengan kikuk Clara mengangguk dan menyesap cokelat panas itu dengan hati-hati.

"Jadi, bagaimana?"

"Bagaimana?"

"Kenapa kamu di luar Cla? Dingin. Ayo masuk"

Dengan cepat di bantah Clara, "Aku mau liat pelangi kak. Indah ya. Mereka berkumpul dan bersatu tanpa melihat perbedaan antara mereka. Tidak seperti manusia, yang melihat segala hal dari perbedaan yang tercipta, dan hasilnya mereka bepencar sesuai dengan selera mereka masing-masing"

"Benar. Memang seperti bukan tabiat manusia pada umumnya? Ingin enaknya sendiri, tanpa memikirkan perasaan orang lain"

"Manusia itu egois kak. Mereka mementingkan diri sendiri dan masa bodoh dengan perasaan orang lain, yang bisa jadi tersakiti akibat perkataan yang dia ucapkan. Dan efeknya? Menimbulkan dendam bagi korban bahkan sampai ada yang meninggal karena perkataan mereka-mereka yang tidak di filter terlebih dahulu"

"Bullying, Clara namanya"

"Iya, itu. Miris ya kak? Aku takut, aku bahkan pernah merasakan hal seperti itu, sebelum bertemu Tiaa dan keluarga. Kalau tidak, aku tidak tahu, apakah aku masih berdiri di bumi atau bahkan telah di telan bumi"

"Maafkan saya, telat menemukan kamu, Clara"

Clara tersenyum, "Tidak, bukan salah kakak semua ini terjadi, ini telah menjadi takdir hidup aku kak"

"Kamu kuat, kamu perempuan hebat yang aku temui Clara"

"Aamiin, semoga aku bisa sekuat itu kak"

"Aamiin, pasti. Kamu pasti kuat, ya, walau aku tahu, dalam kesendirian kamu pasti masih menangis"

"Tidak ada alasan untuk aku tidak menangis kak" Hujan telah reda, Clara masih berdiam diri, dia bergumam "Aku dan Ridho itu selalu main hujan kak, aku rindu"

"Hujannya sudah reda ya? Mau pulang sekarang atau masih betah di sini?"

"Kakak ngusir aku ceritanya?" Robbi gelagapan, bukan seperti itu maksud perkataan Robbi. Mengapa perempuan selalu menyalah artikan semua perkataan laki-laki?

"Tidak, bukan seperti itu, Clara" Clara tertawa melihat raut wajah Robbi yang ketakutan?

"Ahaha.. Aku bercanda kak" meninggalkan Robbi, Clara masuk ke dalam rumah, mencari keberadaan Tante Mira. Setelah menemukan Tante Mira yang tengah berkutik di dapur, Clara menghampiri beliau.

"Tante, Cla pulang dulu ya. Udah sore banget soalnya, takut kemaleman sampe kost"

"Kenapa buru-buru sih?" Tante Mira merajuk, seperti anak zaman now. Clara tertawa. Alhamdulillah, hari ini Clara banyak tertawa, terima kasih Tuhan.

"Ya, sudah. Mana Robbi? Di antar pulang sama Robbi ya sayang, Tante tidak enak hati membiarkan anak gadis pulang sendirian"

"Iya Tante, terima kasih untuk hari ini" Tante Mira mendekap Clara, "Tidak usah berterima kasih. Sering-sering main ke sini ya, rumah ini selalu terbuka lebar untuk kamu"

"Iya, Tante. Insyaallah. Cla pamit ya, Assalamualaikum" Clara mencium tangan Tante Mira, kemudian mengambil tas sekolah yang berada di sofa ruang keluarga dan berjalan menuju pintu keluar, diikuti Tante Mira.

"Obii, antar Clara pulang ya" Ujarnya saat menemukan Robbi.

"Iya Bu. Berangkat sekarang Cla?" Clara mengangguk.

"Berangkat ya Bu, Assalamualaikum"

"Waalaikum'salam, hati-hati Bii"

"Siap"

"Pulang ya Tan"

"Iya sayang, hati-hati"

Dan keduanya pergi meninggalkan kediaman Robbi dengan suka cita, di hiasi gelak tawa sepanjang perjalanan menuju rumah Clara.


#Day19
#RamadhanBerkisah
#PenaJuara

Komentar

Postingan populer dari blog ini

#RamadhanBerkisah

#RamadhanBerkisah