#RamadhanBerkisah


AKSARA

Harusnya laki-laki itu di hukum atas apa yang dia perbuat selama ini. Kehilangan Ridho dan memiliki Rio, menjadi suatu kebanggan kah bagi dirinya? Sungguh. Ayah macam apa dia? Sudah cukup Clara kehilangan kasih sayang kedua orang tuanya, sudah cukup selama 2 tahun ini Clara hidup sebatang kara atas belas kasihan orang-orang terdekat Clara. Sudah cukup psikisnya terganggu, tanpa seorang pun yang tahu. Sudah cukup Semesta bermain-main dengannya, tapi tolong, tidak dengan kehidupan orang tuanya, bagaimana pun mereka, mereka tetap orang yang akan tetap menempati hati Clara. Bunda, wanita hebat yang membawa Clara melihat bagaimana kejamnya dunia ini, menjaga, merawat di lakukan Bunda tanpa keluhan dan Ayah, adalah pria baik hati yang menjadi cinta pertama Clara di dunia ini, Ayah bekerja banting tulang demi menghidupi Clara, putrinya yang super manja ini. Dimana letak kebencian bersarang dalam hatinya? Seharusnya tidak ada. Namun setelah hari ini, pria itu berselingkuh dari Bunda. Hati Clara tercambik-cambik, tersayat namun tak berdarah. 

Tegakah pria itu menghianati Bunda?

Dan, untuk kali pertama sejak dua minggu ini, Clara kembali mengeluarkan air mata. Kesedihan atas apa yang terjadi dalam rumah tangga kedua orang tuanya.

Anak itu bahagia karena berhasil merebut sosok Ayah dalam hidup Clara. 'Hidup mu Clara? Ingat! Sejak insiden itu, dia bukan lagi Ayah kamu. Ayah mana yang tega membiarkan putrinya hanyut dalam kegelapan seorang diri?' Sosok dengan jubah warna merah dan tanduk di kepala berujar pada Clara, tangannya membawa tongkat dengan warna serupa. Namun di lain sisi, sosok malailat berkata 'Bagaimana juga dia adalah Ayah kamu Clara, kamu hanya perlu memahami dia. Mungkin beliau mempunyai penjelasan atas apa yang telah dia perbuat, bukan? Jangan pernah menyimpulkan sesuatu berdasarkan apa yang kamu lihat sekilas'

Clara menjambak rambutnya, terduduk di atas keramik, matanya sembab karena air mata. "Siapa yang salah di sini sebenarnya?" Tanpa sadar Clara berteriak, membuat Tiaa, Om Ari, Tante Tiara dan kak Bayu menghampiri kamar yang di tempati Clara saat ini. 

Bego!

Kenapa Clara lupa, kalau dirinya sedang berada di kediaman Tiaa? Setelah acara merampok tadi siang gagal karena Clara yang seperti orang linglung, Tiaa memutuskan membawa Clara ke rumah, berharap gadis manis itu bisa tenang, barang sedikit. Namun ternyata, pikiran Tiaa salah.

"Astagfirullah, kamu kenapa Nak? Sayang" Tante Tiara mendekap Clara erat, tangannya mengelus punggung Clara. Beberapa kali merapalkan kalimat Istighfar di telinga Clara. Tiaa telah mengeluarkan air mata, melihat sang sahabat terpuruk seperti itu, tangan Bayu merangkul Tiaa, menguatkan sang adik lalu membawa Tiaa dalam dekapannya, sebab perempuan satu itu menangis kencang.

"Kamu sabar, cerita sama Tante, Cla. Apa yang terjadi sayang? Ada apa? Jangan menangis, Tante mohon sama kamu" dapat dirasakan kepala Clara menggeleng kuat dalam dekapan Tante Tiara. Tante Tiara paham apa yang membuat Clara seperti ini "Enggak sayang, kalau itu yang kamu pikirkan, kamu merepotkan Tante, tidak. Jawabannya tidak. Kamu itu anak Tante Cla, Tante sudah mengaggap kamu anak Tante sendiri. Sama seperti Tiaa dan Kak Bayu. Kamu anak Tante" 

Clara mengeratkan pelukan Tante Tiara, mencari tameng bagi dirinya yang rapuh. Semesta benar-benar berbaik hati pada Clara, ingatkan Clara untuk mengucapkan terima kasih lain waktu.

Clara tahu diri, yang di butuhkannya saat ini hanya sebuah pengertian dan tidak menceritkan kejadian tadi pada keluarga ini, termasuk bentuk menenangkan diri bagi Clara.

"Ya sudah, kalau kamu belum mau cerita sama Tante. Kapanpun kamu mau cerita, kita siap mendengarkan. Tante, Om, kak Bayu dan Tiaa selalu ada untuk kamu sayang" merenganggangkan dekapan, Tante Tiara menghapus air mata Clara dan mencium kening Clara penuh sayang. Setelah itu, menuntun Clara menuju ranjang. Di rebahkan tubuh mungil itu, menarik selimut sampai bawah dagu dan beranjak meninggalkan kamar tamu. Membiarkan Clara istirahat.

"Kamu tidur ya, istirahat. Tante buat sup ayam kesukaan Cla dulu. Habis itu Clara makan, ya sayang. Tante pamit"
Lagi dan lagi, Clara mengeluarkan air mata setelah Tante Tiara menutup pintu kamar.

Kamu tidak sendiri Clara, masih ada mereka yang sayang padamu.

"Cla sayang Tante, terima kasih" 

Dan Clara berangkat menuju alam mimpi, yang bagi sebagian orang, lebih indah dari dunia nyata.


#Day22
#RamadhanBerkisah
#PenaJuara



Komentar

Postingan populer dari blog ini

#RamadhanBerkisah

#RamadhanBerkisah